LokalStore88 Rabu,7 Oktober 2026.
Pernah membayangkan anak seorang bintang film besar tumbuh tanpa sentuhan kamera sama sekali? Di rumah Samuel Rizal, pemandangan itu sedang berlangsung dan justru berjalan dengan hangat. Putrinya, Drucilia Kalea Arifin, tidak menunjukkan minat menapaki jejak sang ayah di dunia seni peran. Alih-alih hafal skenario, ia lebih sibuk menyeplok air kolam dan menggiring bola di tengah permainan air. Sang ayah tidak keberatan sedikit pun—bahkan ia siap berdiri paling depan di barisan pendukung.
Hal itu terungkap saat Samuel Rizal ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Pemeran yang dikenal luas lewat film "Eiffel... I'm in Love" itu menegaskan satu hal: ia tidak memaksakan putri semata wayangnya masuk ke industri hiburan Tanah Air. Baginya, masa depan sepenuhnya adalah hak Drucilia untuk ditentukan sendiri. Yang ia berikan hanyalah kebebasan penuh, plus pendampingan selama pilihan itu membawa kebaikan. Sikap ini sekaligus menjadi jawaban bagi publik yang selama ini penasaran dengan arah karier anak-artis.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Ketertarikan Drucilia justru tertuju ke arah yang jauh dari lampu sorot, yakni olahraga air. Ia kini aktif menekuni dua cabang sekaligus: renang dan polo air. Polo air mungkin masih terdengar asing bagi sebagian penikmat olahraga Indonesia. Sederhananya, ini adalah pertandingan bola di kolam renang, saat dua tim saling berlomba mencetak gol ke gawang lawan sambil terus bergerak di air. Olahraga ini menuntut napas panjang, kemampuan renang yang mumpuni, dan kekompakan tim yang luar biasa.
Cinta Olahraga yang Turun ke Anak
Menariknya, semangat sportif Drucilia tidak muncul dari ruang kosong. Samuel Rizal mengakui kegemaran sang putri tumbuh secara selaras dengan gaya hidupnya sendiri. Pria yang sejak lama dikenal rutin menjaga kebugaran tubuh memang mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas fisik. Mulai dari basket, renang, hingga fitness, semuanya menjadi menu tetap dalam rutinitasnya. Ketika anaknya memilih kolam renang sebagai arena bermain, rasanya seperti lingkaran yang menutup dengan manis. Bakat dan minat, ternyata, bisa diwariskan lewat keteladanan sehari-hari.
"Memang anak renang dan polo air. Gua juga basket, renang, dan fitness kan, jadi ya kita inilah, sama-sama aktiflah," kata Samuel Rizal. Kalimat sederhana itu menyingkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebetulan. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat setiap hari, bukan apa yang hanya diperintahkan. Saat figur ayah konsisten memperlihatkan kecintaan pada olahraga, Drucilia menyerapnya secara alami tanpa ada paksaan. Keputusan sang anak terasa seperti buah keteladanan, bukan hasrat orang tua yang digembleng secara memaksa.
Sikap terbuka itu juga terlihat ketika Samuel membahas pilihan minat Drucilia. Ia menegaskan tidak pernah membatasi arah yang ingin diambil anaknya. Prinsipnya sederhana: selama kegiatannya berdampak positif, orang tua wajib berada di barisan terdepan untuk mendukung. "Dia lebih suka ke dunia olahraga sih. Jadi ya sudah, sebagai orang tua, apa pun kegiatannya, selama itu kegiatan positif, kita sih support saja sebagai orang tua," ujarnya.
Pernyataan tersebut penting dipahami dalam konteks yang lebih luas. Tidak sedikit anak-artis yang merasa terjebak ekspektasi untuk melanjutkan "bisnis keluarga" di dunia hiburan. Nama besar orang tua kerap menjadi beban sekaligus kompas yang mendikte arah. Samuel Rizal tampak memilih jalan berbeda dengan melepas tekanan itu sejak dini. Kebebasan semacam ini bukan sekadar gaya pengasuhan, melainkan bentuk penghormatan pada anak sebagai pribadi mandiri yang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Kompak di Dalam dan di Luar Air
Rutinitas latihan yang padat ternyata membawa berkah lain: hubungan ayah dan anak semakin kompak. Samuel menceritakan bahwa waktu bersama mereka di luar jam aktivitas kerap diisi agenda sederhana. Setelah lelah berlatih, keduanya sama-sama merasa lapar dan melepasnya lewat makan bersama. Momen itu menjadi sarana mengisi ulang energi sekaligus saling bertukar cerita. Tidak ada jalan pintas untuk membangun keakraban; semuanya tumbuh dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus.
"Makan sih mostly, karena gua dan anak gua kan sesama olahragawan aktif. Jadi pasti laperan. Pasti bau-baunya makan deh," pungkasnya. Di balik celoteh ringan itu tersimpan potret keluarga yang jarang dipamerkan di dunia hiburan. Ayah dan anak sama-sama aktif bergerak, sama-sama lelah setelah latihan, lalu menutup harinya di atas meja makan. Sederhana, tapi terdengar seperti resep kekeluargaan yang menyenangkan dan bisa ditiru siapa pun.
Pesan di Balik Kebebasan
Kisah keluarga ini menawarkan pelajaran yang terasa dekat bagi banyak orang tua di Indonesia. Di tengah budaya yang sering mengarahkan anak ke profesi tertentu, pendekatan Samuel terasa menyegarkan. Ia tidak menilai satu minat lebih tinggi daripada minat lainnya. Baginya, yang terpenting adalah kegiatan anak membawa hal positif, entah itu kesehatan, disiplin, atau kegembiraan. Nada yang sama bisa diterapkan keluarga mana pun, artis maupun bukan.
Ada juga sisi menarik dari pilihan olahraga yang ditekuni Drucilia. Renang dan polo air sama-sama menuntut komitmen tinggi, mulai dari latihan rutin, tubuh yang terjaga, sampai mental yang kuat. Menekuni dua cabang sekaligus tentu bukan perkara main-main. Di titik inilah dukungan orang tua menjadi salah satu penentu apakah minat tersebut bisa berkembang optimal. Dengan ayah yang memahami dunia olahraga dari pengalaman pribadi, Drucilia seolah punya mentor sekaligus teman latihan seumur hidup.
Dari sisi industri, cerita ini juga menggugah untuk dicermati. Dunia hiburan tanah air sering digambarkan sebagai magnet yang menarik siapa pun ke dalamnya, termasuk keluarga artis. Namun Samuel Rizal membuktikan bahwa jalur itu bukan satu-satunya pilihan yang terhormat. Seorang anak artis boleh saja menolak kamera dan memilih gelanggang olahraga sebagai panggungnya. Yang membuat sebuah keluarga kuat bukan profesi yang dijalani, melainkan rasa saling mendukung yang hidup di dalamnya.
Lalu ke mana langkah berikutnya? Sejauh ini belum ada tanda Drucilia akan berbalik arah ke layar lebar, dan ayahnya pun tidak sedang menunggu hal itu terjadi. Yang jelas, Samuel siap mendampingi setiap langkah putrinya di arena renang dan polo air. Siapa tahu kelak Drucilia tampil di kompetisi besar, atau justru menemukan minat baru yang lain. Apa pun hasilnya, sang ayah sepertinya akan tetap berada di posisi yang sama: pendukung paling setia.
Pada akhirnya, kisah Samuel Rizal dan Drucilia adalah pengingat sederhana tentang arti mendengarkan. Masa depan anak bukan kanvas untuk mencap ambisi orang tua, melainkan halaman kosong yang boleh mereka warnai sendiri. Ayah dan ibu cukup berperan sebagai penyedia cat, kuas, dan tepuk tangan setiap kali goresan baru muncul. Untuk keluarga aktor yang gemar berolahraga ini, warna pilihannya adalah birunya kolam dan semangat bola di dalam air. Dan sepertinya tak ada yang lebih membahagiakan Samuel Rizal selain melihat putrinya berenang bahagia ke arah pilihannya sendiri.
Sumber: Detik Hot
Cerita keluarga seperti ini memang bikin senyum-senyum sendiri, ya. Jangan sampai ketinggalan kabar hangat dan berita terbaru lainnya—yuk terus ikuti kanal resmi LapakStore88. Dengan begitu, update menarik selalu siap menemani harimu!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Samuel Rizal, putri Samuel Rizal, Drucilia Kalea Arifin, polo air, renang, anak artis, dukungan orang tua
#LapakStore88

0 Komentar