Tanpa Sirkuit di Kampung, Veda Ega Pratama Asah Kecepatan di Parkiran Pasar Sapi

Tanpa Sirkuit di Kampung, Veda Ega Pratama Asah Kecepatan di Parkiran Pasar Sapi

LokalStore88 Selasa,6 Oktober 2026.

Parkiran pasar sapi. Bukan sirkuit bersertifikat, bukan arena latihan berteknologi tinggi, hanya hamparan aspal yang setiap pagi dipakai untuk bongkar-muat ternak di Gunungkidul, Yogyakarta. Di tempat itulah Veda Ega Pratama mengasah kemampuan balapnya sejak 2018. Fakta ini terasa mengejutkan karena Veda sekarang bukan lagi anak yang iseng menyalip di gang kampung, melainkan pebalap yang berdiri di level Moto3 bersama Honda Team Asia. Kisahnya jadi cermin sederhana bahwa bakat besar bisa tumbuh dari fasilitas yang jauh dari ideal.

Catatan Veda musim ini berbicara cukup lantang. Ia sementara menempati peringkat kedelapan klasemen Moto3 2026 dengan koleksi 105 poin, angka yang jelas tidak datang dari kebetulan. Sebagai pebalap yang disponsori Red Bull, ia kini bersaing di panggung internasional yang penuh tekanan. Akhir pekan ini ada momen istimewa karena Veda akan tampil di Moto3 Mandalika 2026, balapan kandang yang selalu punya atmosfer berbeda. Bagi pebalap Indonesia, berlaga di depan pendukung sendiri adalah campuran antara kebanggaan dan beban.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Berlatih di Antara Aktivitas Pasar

Cerita ini bermula jauh sebelum nama Veda dikenal di lintasan internasional. Sejak 2018, ia rutin berlatih di area parkir pasar di kampung halamannya di Gunungkidul. Pilihan itu bukan karena gaya-gayaan atau ingin tampil unik, melainkan karena memang tidak ada sirkuit yang bisa dipakai untuk latihan. Alhasil, aspal pasar yang sederhana berubah fungsi menjadi ruang belajar bagi seorang calon pebalap. Situasi seperti ini bukan hal langka di banyak daerah, tetapi tetap saja terasa ironis ketika prestasinya kemudian diakui di level dunia.

Di balik kebiasaan latihan itu ada sosok ayah yang berperan besar. Veda mengaku sejak kecil selalu dibimbing dan ditemani sang ayah, yang juga seorang pebalap. Pendampingan itu berlangsung hampir setiap hari, bukan hanya sesekali di akhir pekan. Bahkan setelah kariernya naik kelas dan jadwalnya padat, ia tetap kembali berlatih bersama ayahnya saat ada kesempatan. Kombinasi antara bakat, kedisiplinan, dan figur mentor dari lingkungan keluarga jadi fondasi yang kuat.

Veda menggambarkan metode latihan ayahnya sebagai sesuatu yang cukup keras. Menurutnya, sang ayah memang tidak pernah menggampangkan proses, dan itulah yang perlahan membentuk mentalnya hingga sekarang. Ketika pulang kampung, sesi latihan bersama ayahnya kembali berjalan seperti dulu. Ada kesan bahwa hubungan mereka bukan sekadar ayah dan anak, tetapi juga pelatih dan murid yang saling percaya. Dari sisi pembinaan, kedekatan semacam ini sering jadi faktor penentu bagi atlet muda yang masih mencari bentuk permainannya.

Soal durasi, Veda tidak mematok target yang panjang. Ia menyebut latihannya dilakukan secukupnya saja, disesuaikan dengan kebutuhan saat itu. Pendekatan ini menarik karena menunjukkan bahwa kualitas sesi lebih penting daripada sekadar menghabiskan waktu di lintasan. Bagi pebalap muda, kelelahan berlebih justru bisa menurunkan fokus dan menambah risiko cedera. Jadi, meski tempatnya seadanya, cara berlatihnya tetap diperhitungkan. Tidak ada jadwal mewah atau peralatan pendukung canggih dalam rutinitas itu.

Tanpa Sirkuit di Kampung, Veda Ega Pratama Asah Kecepatan di Parkiran Pasar Sapi (2)
Foto: Detik Oto

Yang membuat kisah ini makin menarik, kebiasaan tersebut tidak berhenti ketika Veda mulai berkarier serius. Hingga kini, parkiran pasar sapi itu masih menjadi salah satu lokasi latihannya setiap kali ia mudik ke Gunungkidul. Ia mengaku sudah memakai tempat itu sejak 2018 dan belum berhenti sampai sekarang. Ada semacam kesetiaan pada tempat yang pertama kali mengajarinya soal gas, rem, dan keseimbangan. Bagi banyak orang, lokasi itu bukan sekadar tempat latihan, melainkan penanda titik awal sebuah perjalanan.

Kalau Mau ke Sirkuit, Harus ke Boyolali

Keterbatasan fasilitas membuat Veda harus menempuh jalan lebih jauh ketika butuh latihan di sirkuit. Ia menyebut sampai sekarang belum ada sirkuit di daerahnya. Kalau ingin berlatih di lintasan yang sesungguhnya, ia harus pergi ke kota lain, dan pilihannya jatuh ke Boyolali. Artinya, ada biaya waktu, tenaga, dan logistik yang harus ditanggung hanya untuk mendapatkan pengalaman berkendara di sirkuit. Perjalanan semacam itu tentu tidak bisa dilakukan setiap hari.

Karena itu, harapan Veda cukup sederhana, yaitu semoga ada sirkuit baru yang lebih dekat dengan rumahnya. Keinginan itu bukan sekadar soal kenyamanan pribadi. Kehadiran sirkuit di daerah akan membuka akses bagi anak-anak lain yang punya minat sama tetapi terkendala jarak dan biaya. Selama ini, bibit-bibit pebalap dari daerah harus berjuang ekstra hanya untuk bisa berlatih di fasilitas yang layak. Padahal, kesempatan berlatih yang setara sering jadi penentu apakah seorang talenta berkembang atau justru berhenti di tengah jalan.

Pelajaran soal Pembinaan Atlet Daerah

Kisah Veda relevan bukan hanya bagi penggemar balap, tetapi juga bagi siapa pun yang peduli pada pembinaan olahraga. Di banyak daerah, fasilitas latihan masih jadi persoalan klasik yang jarang masuk daftar prioritas. Akibatnya, atlet muda bergantung pada kreativitas keluarga, komunitas, atau sponsor pribadi untuk terus melaju. Ketika seseorang akhirnya berhasil di panggung internasional, barulah perhatian datang bertubi-tubi. Pola seperti ini menunjukkan bahwa sistem pembinaan perlu dibangun lebih rapi sejak awal, bukan hanya setelah prestasi muncul.

Perhatian publik biasanya langsung mengarah ke hasil balapan, sementara proses panjang di belakangnya sering luput dari sorotan. Padahal, mereka yang mengikuti dunia balap tahu bahwa jam terbang di lintasan sangat menentukan. Dari sisi penyelenggara dan pembina, kebutuhan sirkuit di wilayah tertentu sudah lama jadi bahan pembicaraan. Namun, membangun fasilitas semacam itu butuh lahan, dana, dan perencanaan jangka panjang. Karena itu, cerita seperti yang dialami Veda sering dipakai sebagai contoh mengapa investasi di sektor ini penting.

Ke depan, mata akan tertuju pada penampilan Veda, terutama saat ia berlaga di Mandalika akhir pekan ini. Dengan posisi kedelapan dan 105 poin di klasemen sementara Moto3 2026, ia punya modal untuk terus bersaing di barisan depan. Apa pun hasilnya nanti, jejak latihan di parkiran pasar sapi itu tetap menjadi bagian dari perjalanannya. Bagi banyak orang, kisah ini mengingatkan bahwa keterbatasan tidak selalu jadi penghalang, tetapi sering menjadi guru pertama yang paling jujur. Dan mungkin, dari tempat sederhana seperti itu, lahir generasi pebalap berikutnya.

Sumber: Detik Oto

Kalau kamu suka cerita perjuangan atlet seperti ini, jangan sampai ketinggalan update berikutnya. Gabung dan pantau terus kanal resmi LapakStore88 biar semua kabar terbaru soal balap dan olahraga langsung sampai ke kamu. Cerita-cerita seru lain juga menunggu, jadi tetap mampir ya!

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: Veda Ega Pratama, Veda Ega Moto3, parkiran pasar sapi, latihan Veda Ega Pratama, Moto3 Mandalika 2026, sirkuit Boyolali, pebalap Indonesia, Honda Team Asia

#LapakStore88

Posting Komentar

0 Komentar