LokalStore88 Selasa,6 Oktober 2026.
Tas 2.55 antik yang tersimpan rapat di arsip Patrimoine Chanel kembali menyentuh runway. Yang membuatnya istimewa, tas itu bukan replika melainkan milik pribadi Gabrielle Chanel sendiri, dan ia menjadi pembuka pertunjukan dengan dibawa model Dyanira Hurbuscher. Momen tersebut bukan sekadar sentuhan nostalgik, melainkan pernyataan niat Matthieu Blazy soal arah yang ingin ia ambil bagi rumah fashion legendaris ini. Lewat koleksi Chanel Summer 2027 yang dipentaskan di Paris Fashion Week, Blazy mengajak publik membaca ulang sosok pendiri brand tersebut. Hasilnya, sebuah narasi busana yang terasa seperti percakapan panjang antara masa lampau dan masa kini.
Koleksi itu diberi judul 'La Conversation – Part Three – Different Faces of the Same Coin', yang bisa dimaknai sebagai wajah-wajah berbeda dari satu keping mata uang yang sama. Namanya juga menandakan bahwa ini merupakan babak ketiga dari sebuah 'percakapan' yang dijalin Blazy dengan sosok Gabrielle Chanel. Daripada sekadar menyalin arsip, ia memilih membedah bagaimana identitas seseorang bisa terus bergeser seiring perjalanan hidup. Paris Fashion Week menjadi arena uji yang pas untuk melihat sejauh mana gagasan filosofis semacam itu diterjemahkan menjadi busana nyata. Jawabannya hadir dalam bentuk koleksi yang runtut, mulai dari busana sehari-hari hingga gaun paling formal.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Ada satu pernyataan Blazy yang menjadi jantung seluruh koleksi ini. 'Throughout their lives, women become multiple selves, different faces of the same coin,' ujarnya, yang kira-kira bermakna bahwa sepanjang hidupnya perempuan menjelma menjadi berbagai sosok diri. Kalimat itu layak dibaca sebagai kacamata utama untuk menafsirkan setiap tampilan di runway. Baginya, perempuan tidak pernah berhenti pada satu identitas tunggal; sosok itu bisa terus bertumbuh dan bertukar dari satu fase hidup ke fase berikutnya. Dengan kerangka berpikir seperti ini, wajar jika koleksinya terasa lebih mirip potret perjalanan jiwa ketimbang sekadar pameran pakaian musiman.
Sosok yang dipilih sebagai subjek percakapan ini memang bukan perempuan sembarangan. Gabrielle Chanel dikenal berawal sebagai perempuan muda yang berani menentang batasan busana pada zamannya. Ia kemudian berevolusi menjadi figur besar yang melahirkan berbagai kode ikonis yang kini melekat erat dengan nama Chanel. Perjalanan panjang itulah yang dipakai Blazy sebagai peta dalam menyusun alur koleksi. Bukan satu momen tertentu yang diambil, melainkan keseluruhan metamorfosis sang pendiri yang dihadirkan ulang di atas panggung.
Dari Jersey ke Suit: Menelusuri Akar Kode Ikonis
Alur koleksi ini membawa penonton menyusuri perjalanan Gabrielle Chanel dari masa awal kariernya hingga periode pascaperang. Titik berangkatnya justru terasa tak terduga: eksplorasi jersey underwear. Dari bahan yang biasanya tersembunyi di lapisan dalam itulah Blazy menunjukkan benih-benih awal yang kelak berkembang menjadi elemen paling ikonik Chanel, yakni suit. Pilihan ini bukan tanpa maksud, sebab underwear secara diam-diam merepresentasikan kebebasan tubuh yang paling personal. Dari sana, kisah perlahan dibangun lapis demi lapis hingga mencapai siluet yang paling dikenal publik.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366171/original/044492900_1791256670-chanel_spring-summer-2027-chanel16-1-LD.jpg)
Salah satu kekuatan koleksi ini terletak pada cara Blazy menafsirkan ulang tailoring. Jika jahitan jas pada masa lalu identik dengan struktur yang kaku dan berdiri, ia justru melunakkan segalanya. Suit dalam koleksi Summer 2027 dikenakan layaknya second skin, menyentuh tubuh dengan ringan dan mengikuti setiap gerak. Pemakainya tidak lagi merasa dikurung oleh potongan rapi, melainkan justru dibebaskan untuk bergerak lebih luwes. Perubahan pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa warisan bisa dipertahankan tanpa harus menyalin kaku bentuk aslinya.
Jejak masa lalu tetap hadir, tetapi caranya halus. Detail seperti shadow boning, peplum, ruffle pada kerah, hingga lekuk bodice muncul di berbagai tampilan. Semua elemen itu berfungsi layaknya bayangan dari busana-busana lama, meninggalkan jejak historis tanpa membuat koleksi terasa seperti pengulangan arsip. Penonton yang mengenal sejarah rumah fashion ini akan menangkap rujukannya, sementara penonton baru tetap bisa menikmati potongannya sebagai sesuatu yang segar. Di sinilah kecakapan Blazy terasa: ia menyeimbangkan nostalgia dan kebaruan tanpa memihak secara berlebihan.
Ketika Elemen Maskulin dan Feminin Bertemu
Di mana letak permainan maskulin-feminin yang menjadi ciri koleksi ini? Jawabannya paling jelas terlihat pada masuknya dunia tailoring pria lewat eksplorasi men's formal daywear dan eveningwear. Potongan raw-edged diterjemahkan menjadi gilet yang bisa dipadukan dengan trousers. Tidak berhenti di situ, potongan-potongan itu juga direkonstruksi menjadi pencil-skirt suits yang elegan. Hasilnya adalah busana yang meminjam ketegasan lemari pakaian pria, namun tetap menyisakan ruang bagi kelembutan.
Lebih jauh, bahasa busana pria itu melebur ke dalam gaun formal bergaya 1930-an. Beberapa di antaranya hadir dengan struktur bias yang mengalir dan dihias sequins yang berkilau di bawah lampu runway. Versi lain justru dibuat dari bahan knitted dan beaded yang ringannya mengejutkan, sehingga nyaman dikenakan seperti T-shirt sehari-hari. Kombinasi semacam ini jarang ditemukan pada busana formal yang biasanya terasa berat dan seremonial. Di tangan Blazy, gaun malam bisa terasa seenak kaus oblong, dan itulah daya tariknya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366172/original/082444300_1791256670-chanel_spring-summer-2027-chanel8-1-LD.jpg)
Kontras antara struktur dan kelembutan tadi bukan sekadar eksperimen visual. Ia mencerminkan cara Blazy memandang femininitas sebagai sesuatu yang tidak memiliki satu definisi baku. Identitas perempuan, menurut logika koleksi ini, bisa berubah, dimainkan, bahkan dilepaskan untuk menemukan bentuk baru. Sebuah jas yang tegas bisa berdampingan dengan gaun sutra yang mengalir tanpa saling menegasikan. Pesan itu relevan bagi perempuan modern yang setiap hari berganti peran dan tidak ingin dikunci dalam satu citra.
Sisi feminin yang lebih lunak muncul melalui permainan flou, terutama pada deretan busana berbahan silk transparan. Sejumlah tampilan memakai lapisan printed silk dengan bobot yang berbeda-beda, menciptakan efek visual seperti formasi awan yang menggumpal di atas tubuh. Potongan-potongan yang mengembang itu bergerak mengikuti langkah model, memberi hidup pada setiap tampilan. Materialnya terasa ringan, nyaris tanpa beban, seolah busana hanya menjadi pemanjangan udara di sekeliling tubuh. Di sini keahlian teknis dalam mengolah sutra terlihat paling gamblang.
Yang menarik, busana-busana flou ini juga difungsikan sebagai penanda waktu. Geraknya yang mengembang seolah menangkap perubahan suasana dari pagi hari, golden hour, hingga malam tiba. Satu deretan tampilan bisa dibaca seperti perjalanan sehari penuh, dari cahaya yang masih lembut hingga langit yang menggelap. Busana pun berubah menjadi medium bercerita, bukan hanya penutup tubuh. Sensasi ringan dan bebas yang ditawarkannya turut memperkuat tema kebebasan yang menjadi benang merah sejak awal koleksi.
Simbol Kebebasan dan Tweed yang Melentur
Gagasan kebebasan dalam koleksi ini bahkan diterjemahkan menjadi simbol yang paling konkret: burung swift dan swallow. Kedua jenis burung itu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari buttons, jewellery, hingga detail embroidery di permukaan busana. Namun kehadiran mereka jauh melampaui fungsi dekoratif semata. Burung menjadi metafora perjalanan Gabrielle Chanel yang terus melepaskan berbagai batasan melalui fashion, terbang meninggalkan aturan yang mengikat zamannya. Setiap kali burung itu muncul, penonton diingatkan bahwa koleksi ini pada dasarnya bercerita tentang kemerdekaan.
Pada bagian akhir, Blazy kembali kepada salah satu identitas terkuat rumah ini: tweed. Kali ini ia memperkenalkan inovasi bernama smocked tweed, yang karakternya lebih ringan, fleksibel, dan stretch. Bahan tersebut memungkinkan tubuh bergerak jauh lebih bebas dibandingkan potongan tweed pada umumnya. Inovasi ini penting karena tweed hampir selalu dianggap simbol sakral Chanel yang tidak boleh disentuh. Blazy justru membuktikan bahwa kode ikonik bisa disegarkan tanpa kehilangan jiwa aslinya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366173/original/099538300_1791256670-chanel_spring-summer-2027-chanel14-1-LD.jpg)
Yang paling rapi dari seluruh konstruksi koleksi adalah bagaimana ujungnya bertemu dengan awalnya. Jika perjalanan Gabrielle digambarkan dimulai dari underwear sebagai simbol kebebasan tubuh, kisah itu ditutup oleh suit bertweed yang kini jauh lebih ringan dan mobile. Lingkaran pun tertutup sempurna: tradisi tidak dihapus, melainkan terus dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan perempuan modern. Koleksi Summer 2027 karenanya terasa seperti pertemuan dua zaman dalam satu panggung. Masa lalu dan masa kini tidak saling meniadakan, melainkan saling menerangi.
Aksesori yang Mengikat Seluruh Cerita
Narasi tentang beragam identitas Gabrielle Chanel juga mengalir deras lewat aksesori. Pertunjukan dibuka oleh Dyanira Hurbuscher yang membawa tas 2.55 milik Gabrielle Chanel sendiri, dipinjam dari arsip Patrimoine Chanel. Tas tersebut kemudian muncul kembali di akhir pertunjukan, kali ini dikenakan oleh model yang sama, menciptakan simpul emosional yang manis. Deretan flap bags turut mempertemukan berbagai era, dari reinterpretasi maroquinerie klasik dengan watch-chain lock hingga cloud bags yang merepresentasikan perjalanan waktu. Setiap tas menjadi bab tersendiri dalam kisah panjang sang pendiri.
Sebagai penutup, Blazy menyajikan birdcage minaudière yang penuh simbolisme. Sangku berbentuk sangkar itu menampilkan burung-burung yang seolah telah melarikan diri dari dalamnya. Simbol ini terasa playful di permukaan, tetapi menyimpan makna yang dalam tentang kebebasan yang akhirnya diraih. Setelah sepanjang koleksi bercerita tentang pelepasan batasan, penutup berupa burung yang lolos dari sangkar terasa seperti titik klimaks yang tepat. Pesannya sederhana namun kuat: kebebasan selalu bisa dimenangkan.
Pada akhirnya, Chanel Summer 2027 memperlihatkan bagaimana sebuah rumah fashion besar bisa menghormati pendirinya tanpa terjebak pengulangan. Blazy tidak memperlakukan arsip sebagai museum yang harus dijaga, melainkan sebagai mitra bicara yang masih hidup. Lewat beragam wajah Gabrielle Chanel yang ia hadirkan, ia sekaligus menawarkan cermin bagi perempuan masa kini yang juga terus berganti sosok sepanjang hidup. Langkah selanjutnya tentu menanti di pertunjukan-pertunjukan berikutnya, dan setelah bab ketiga ini, ekspektasi terhadap Blazy jelas semakin tinggi. Satu hal yang bisa dipastikan: percakapannya dengan Gabrielle Chanel tampaknya masih jauh dari selesai.
Sumber: Liputan6 Lifestyle
Kamu penasaran dengan perkembangan dunia fashion atau sekadar ingin tetap update soal berita menarik lainnya? Jangan sampai melewatkan kabar-kabar berikutnya dari LapakStore88. Gabung dan ikuti kanal resmi kami supaya kamu selalu menjadi yang paling awal tahu update terbaru setiap harinya.
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Chanel Summer 2027, Matthieu Blazy, Gabrielle Chanel, Paris Fashion Week, koleksi Chanel, tweed Chanel, tas 2.55, berita fashion
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366171/original/044492900_1791256670-chanel_spring-summer-2027-chanel16-1-LD.jpg)
0 Komentar