LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Kalau sebuah kecerdasan buatan bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik, keterampilan apa yang sebenarnya masih perlu dimiliki anak-anak kita? Pertanyaan itu menjadi titik tolak sebuah talkshow edukatif yang digelar di Grand Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya. Acara bertajuk 'AI Makin Pintar, Anak Kita Perlu Pintar Apa? Preparing Today for Tomorrow's Future Leaders' ini menyoroti satu hal yang sering luput: fondasi tumbuh kembang anak tetap bertumpu pada nutrisi dan stimulasi nyata. Bagi orang tua yang hari-harinya dikelilingi gawai, pembahasan ini terasa relevan. Sebab, kecanggihan teknologi tidak otomatis menjawab kebutuhan dasar otak anak untuk berkembang.
Talkshow tersebut merupakan bagian dari rangkaian Morinaga Door of Future yang berlangsung di Surabaya pada 9-11 Oktober 2026. Selain diskusi, acara ini diisi berbagai kegiatan edukatif dan kompetisi untuk orang tua dan anak. Ada lomba Baby Crawling, lomba Science & Technology untuk kategori usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun, hingga Kids Fashion Show Mommy & Me serta kategori usia 5-6 tahun dan 7-9 tahun. Acara ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk, sehingga keluarga bisa datang langsung. Pengunjung juga bisa memborong produk Morinaga dengan penawaran promo khusus selama acara berlangsung.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Fondasi Nutrisi dan Stimulasi yang Tak Bisa Dipisahkan
Di atas panggung, dokter spesialis anak sekaligus Pediatric Lecturer, dr. Sunny Mariana Samosir, Sp.A., M.Ked.Klin., mengingatkan bahwa nutrisi dan stimulasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ia menyinggung soal periode 1.000 hari pertama kehidupan yang kerap digaungkan sebagai jendela emas pertumbuhan. Menurutnya, sejak bayi masih berada di dalam kandungan, orang tua sudah mulai berupaya memberikan yang terbaik. Setelah anak lahir, kebutuhan itu berlanjut, terutama pada tahap awal usia. Alasannya sederhana: nutrisi memegang peran besar bagi perkembangan otak. Karena itu, keduanya perlu dimaksimalkan, bukan salah satu saja.
Namun, memberi asupan bergizi saja tidak cukup. Stimulasi nyata lewat interaksi, bermain, dan kebiasaan sehari-hari menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Kombinasi seimbang antara keduanya disebut sebagai kunci agar otak anak berkembang optimal. Masalahnya, rutinitas modern membuat dua hal ini mudah tergeser. Layar yang menyala hampir sepanjang hari kerap mencuri waktu yang seharusnya dipakai untuk bermain fisik atau berbicara dengan anggota keluarga. Padahal, momen-momen sederhana itulah yang membantu anak mengenal dunia dan melatih kemampuan berpikirnya. Orang tua pun dituntut lebih sadar dalam mengatur keseharian anak.
Ketika Layar Mengambil Alih Waktu Bermain
Teknologi AI dan gawai memang membawa tantangan tersendiri bagi orang tua. Menurut dr. Sunny, sulit membayangkan hidup sekarang tanpa kehadiran AI. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, termasuk kebiasaan orang dewasa di sekitarnya. Ia mencontohkan kebiasaan memegang ponsel saat makan atau sebelum tidur, hal yang sering tanpa sadar dilakukan orang tua. Di sisi lain, banyak orang tua cemas berlebihan: takut memberi screen time karena khawatir anak mengalami gangguan perkembangan. Padahal, kata dia, ada banyak hal lain yang perlu diperhatikan di balik persoalan itu.
Yang jadi sorotan adalah durasi screen time yang tidak terkontrol. Waktu di depan layar berisiko menggantikan aktivitas penting anak, mulai dari bermain fisik sampai kebiasaan makan yang sehat. Ketika anak makan sambil menatap layar, perhatiannya tersedot ke sana. Akibatnya, ia bisa kesulitan mengenali sinyal lapar dan kenyang dari tubuhnya sendiri. Pola makan yang kacau seperti ini dikhawatirkan memengaruhi fungsi pencernaan serta tumbuh kembang si kecil. dr. Sunny menawarkan alternatif sederhana: menggantikan waktu layar sebelum tidur dengan kegiatan bermanfaat, misalnya membacakan cerita untuk anak.

AI: Alat Bantu, Bukan Jawaban Instan
Bukan berarti AI harus dijauhi. dr. Sunny justru menilai teknologi ini akan membantu kehidupan anak di masa depan, asalkan dimanfaatkan dengan bijak. Kuncinya ada pada edukasi sejak dini. Anak perlu dilatih berpikir kritis, termasuk kemampuan menyusun pertanyaan atau prompt yang tepat dan akurat. Kemampuan itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan dibangun perlahan lewat kebiasaan sehari-hari. Ia pun menegaskan bahwa generasi mendatang hampir pasti tidak bisa lepas dari AI. Karena itu, membekali anak dengan cara berpikir yang benar menjadi jauh lebih penting daripada sekadar melarang.
Dari sisi pendidikan teknologi, Vally Valensia, M.Kom., yang menjabat sebagai Teacher, Academic Support & Marketing Coordination Koding Next Surabaya, menyoroti kemudahan yang ditawarkan AI. Dengan perintah sederhana, teknologi ini mampu mengeksekusi berbagai kebutuhan digital, dari mencari informasi hingga membuat program. Namun, kemudahan itu menuntut pendampingan. Menurut Vally, orang tua dan pendamping belajar perlu memastikan anak memahami tujuan penggunaan AI: untuk apa, data apa yang dicari, dan bagaimana menyelesaikan masalahnya. Anak juga harus dilatih memeriksa kebenaran informasi, karena tidak semua jawaban AI tepat.
Vally memahami keinginan orang tua agar anak bebas mencari tahu apa pun. Namun, kebebasan itu tetap perlu dibarengi bekal pemahaman. AI boleh dipakai untuk membantu belajar, misalnya mengerjakan tugas sekolah. Bedanya, anak diajak berdiskusi, bukan sekadar menyalin jawaban. Prinsip yang ia tekankan kurang lebih begini: bertanya boleh, tetapi bukan untuk langsung mendapatkan jawaban jadi. Dengan cara itu, anak terlatih mengolah informasi dan mempertanyakan apa yang ia terima. Peran pendamping jadi krusial untuk menjaga arah diskusi tetap sehat.
Edukasi soal peran AI memang penting agar anak tidak sekadar mengandalkan hasil instan. Jawaban yang datang seketika sering kali kurang detail, bahkan bisa keliru. Lewat pendampingan yang tepat, AI justru bisa berubah menjadi sarana diskusi untuk memperdalam pemahaman. Anak diajak memilah informasi, berpikir runtut, dan mencoba menyelesaikan persoalan langkah demi langkah. Proses itulah yang melatih kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, anak berisiko menerima mentah apa pun yang disodorkan teknologi.
Bagi keluarga di Surabaya dan sekitarnya, rangkaian acara ini menjadi kesempatan untuk belajar sambil bersenang-senang. Hari kedua berlangsung meriah dengan lomba Baby Crawling yang ramai oleh orang tua dan si kecil. Lomba Science & Technology, Kids Fashion Show Mommy & Me, hingga kategori fashion show untuk anak usia lebih besar turut menyemarakkan suasana. Menjelang sore dan malam, acara semakin padat, terutama saat penampilan fashion show dengan konsep unik dan inspiratif oleh orang tua dan anak. Pengunjung pun bisa memanfaatkan promo produk selama acara.
Inti pesan dari Morinaga Door of Future kali ini cukup jelas: masa depan yang berdampingan dengan teknologi tetap membutuhkan fondasi yang kokoh. Nutrisi terbaik dan stimulasi yang konsisten menjadi bekal awal bagi anak untuk tumbuh cerdas. Di atas fondasi itu, literasi digital dan kemampuan berpikir kritis bisa dibangun perlahan. Orang tua tidak perlu alergi pada AI, tetapi juga tidak bisa melepas anak begitu saja tanpa pendampingan. Dengan keseimbangan itu, anak lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah.
Sumber: Detik Health
Kalau kamu ingin terus dapat bacaan ringan tapi berbobot soal parenting, kesehatan, dan gaya hidup keluarga, jangan kemana-mana ya. Simpan terus kanal berita terkini dari LapakStore88 supaya kamu tidak ketinggalan kabar dan pembahasan seru berikutnya. Yuk, ikut mantengin update-nya bareng-bareng!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: morinaga door of future, perkembangan otak anak, nutrisi anak, screen time anak, anak dan AI, parenting era digital, stimulasi anak, talkshow parenting surabaya
#LapakStore88

0 Komentar