Nostalgia Era Perserikatan: PSMS dan Persija Kembali Satu Grup di League Cup

Nostalgia Era Perserikatan: PSMS dan Persija Kembali Satu Grup di League Cup

LokalStore88 Kamis,8 Oktober 2026.

Undian League Cup 2026/2027 di Kantor I.League, Jakarta, Rabu (7/10/2026), menempatkan PSMS Medan ke dalam Grup A Zona Barat 1 bersama Persija Jakarta dan Sumsel United. Bagi banyak penggemar sepak bola Tanah Air, dua nama pertama itu bukan sekadar lawan di fase grup. PSMS dan Persija menyimpan sejarah panjang sebagai pesaing di era Perserikatan, masa ketika kedua klub sama-sama berada di papan atas. Karena itulah hasil drawing ini langsung menjadi salah satu partai paling ditunggu. Pertemuan mereka sudah lama tidak terjadi di kompetisi modern, sehingga laga ini terasa seperti membuka kembali album lama.

Drawing yang digelar di Jakarta itu memang mempertemukan sejumlah klub Super League dengan klub Championship, alias dua kasta berbeda dalam satu panggung. Dari situasi inilah muncul banyak duel yang sebelumnya sulit terjadi di kompetisi reguler, termasuk PSMS melawan Persija. Bagi penyelenggara, silang kasta seperti ini punya daya tarik sendiri: ia menghadirkan cerita lama yang tidak lagi rutin tersaji. Turnamen ini jadi semacam jembatan antara klub yang kini berkompetisi di level berbeda, sekaligus memberi warna baru pada kalender sepak bola nasional. Bagi penonton, ini kesempatan melihat pertemuan yang selama bertahun-tahun hanya jadi bahan obrolan.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Rivalitas yang Berakar dari Era Perserikatan

Pada era Perserikatan, PSMS bukan tim pelengkap. Medan punya tim yang rutin bersaing di jalur juara, dan PSMS tercatat empat kali menuntaskan kompetisi sebagai juara serta lima kali finis sebagai runner-up. Catatan itu membuat posisi mereka di papan atas waktu itu cukup solid, bukan sekadar penghuni sementara. Bagi Persija, PSMS termasuk lawan yang harus diperhitungkan serius, bukan tim yang bisa dilewati dengan mudah. Rivalitas keduanya tumbuh dari pertemuan-pertemuan penting yang menentukan arah persaingan gelar. Dari situ, cerita tentang dua klub ini pun melekat di ingatan banyak penggemar sepak bola senior.

Di sisi lain, Persija punya catatan yang membuatnya dijuluki raja Perserikatan. Klub ibu kota itu mengumpulkan sembilan gelar juara, jumlah yang dihitung sejak masa ketika namanya masih VIJ hingga berganti menjadi Persija. Dominasi itu menempatkan mereka sebagai salah satu kekuatan paling konsisten di kompetisi paling bergengsi pada zamannya. Ketika berhadapan dengan PSMS, laga tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal siapa yang lebih dulu menunjukkan wibawa sebagai penguasa panggung. Warisan reputasi itulah yang masih dibawa nama kedua klub sampai hari ini, bahkan ketika keduanya kini berdiri di kasta yang berbeda.

Masalahnya, jalan kedua klub setelah era berganti tidak lagi sejajar. Persija terus tampil kompetitif di kompetisi utama dan relatif terjaga di level teratas. PSMS justru beberapa kali mengalami pasang-surut, termasuk fase ketika mereka harus bermain di kasta yang lebih rendah. Akibatnya, pertemuan antara keduanya menjadi barang langka di kompetisi modern. Jarak kompetitif itu tidak menghapus sejarah, tetapi cukup membuat laga klasik ini jarang terulang. Itu sebabnya drawing League Cup kali ini terasa istimewa bagi banyak pihak, terutama pendukung lama kedua klub yang menyimpan memorinya sendiri.

Grup A dan Aturan yang Menentukan

Di Grup A Zona Barat 1, PSMS dan Persija tidak sendirian. Sumsel United melengkapi grup ini dan otomatis menjadi penentu arah persaingan. Status PSMS yang kini bermain di Championship tidak lantas membuat laga melawan Persija kehilangan bobotnya. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya tiket ke babak berikutnya, tetapi juga gengsi kejayaan masa lalu yang masih melekat pada kedua nama besar itu. Bagi pemain PSMS, ini kesempatan menunjukkan bahwa jarak kasta tidak selalu berarti jarak kualitas. Bagi Persija, ini ujian agar tidak terjebak dalam bayang-bayang nostalgia dan tetap membuktikan diri sebagai tim yang lebih mapan.

Format fase grup memberi setiap tim dua pertandingan, dengan rincian satu laga kandang dan satu laga tandang. Artinya, tidak ada tim yang bisa bersembunyi di satu laga saja; konsistensi di dua pertemuan akan menentukan siapa yang berhak melaju. PSMS bersama Persija dan Sumsel United akan bersaing untuk menjadi juara grup demi melaju ke Babak 12 Besar, sehingga margin kesalahan sangat tipis. Dengan tiga tim di dalam grup, setiap hasil bisa mengubah peta persaingan secara cepat. Sumsel United pun bukan pelengkap, karena satu kemenangan mereka bisa membuat situasi grup berbalik arah.

Nostalgia Era Perserikatan: PSMS dan Persija Kembali Satu Grup di League Cup (2)
Foto: Detik Sport

Menariknya, jadwal pertemuan PSMS dan Persija dipengaruhi sistem pot dalam undian. Tim Pot 1 akan menjamu tim Pot 2, tim Pot 2 menjamu tim Pot 3, sementara tim Pot 3 menjamu tim Pot 1. Karena PSMS berada di Pot 3 dan Persija di Pot 1, laga kandang saat keduanya bertemu jatuh ke tangan PSMS. Itu keuntungan tersendiri: dukungan penonton sendiri bisa menjadi energi tambahan, sekaligus tekanan tersendiri bagi tuan rumah. Sistem ini dirancang agar pembagian laga kandang dan tandang tetap terbagi rapi di antara tim-tim dalam satu grup. Efeknya, setiap tim punya satu kesempatan bermain di hadapan pendukungnya sendiri.

Setelah fase grup selesai, kompetisi berlanjut ke Babak 12 Besar, lalu perempat final, semifinal, dan final. Seluruh pertandingan dari Babak 12 Besar hingga final dimainkan dengan format satu leg, tanpa laga kandang-tandang. Format itu membuat setiap kesalahan berpotensi fatal, karena tidak ada kesempatan kedua untuk membalas kekalahan. Bagi tim yang lebih matang secara taktik, format ini bisa menguntungkan; sebaliknya, tim yang lambat panas berisiko langsung tersingkir. Pendeknya, kualitas pada satu malam bisa menentukan seluruh perjalanan sebuah tim di turnamen ini.

Reaksi dari Dunia Sepak Bola

Respons dari kalangan pengurus sepak bola nasional cukup menggambarkan besarnya magnet laga ini. Sekjen PSSI, Yunus Nusi, menyebut pertemuan PSMS dan Persija sebagai hal yang sulit dibayangkan atmosfernya, betapa ramai dan bergelora. Menurutnya, pertandingan semacam itu justru yang diharapkan PSSI untuk pengembangan sepak bola ke depan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa nilai sebuah laga tidak hanya diukur dari kastanya, tetapi juga dari cerita dan keterikatan emosional yang dibawanya. Laga yang menghidupkan kembali rivalitas lama dianggap punya daya tarik tersendiri bagi penonton.

Senada dengan itu, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menilai hasil drawing kali ini menghasilkan banyak grup yang menarik. Ia menyoroti grup-grup berisi tim dengan rivalitas atau masa kejayaan di waktu lampau, menyebut Persija melawan PSMS sebagai salah satu contohnya, dan juga menyinggung Persipura. Cara pandang ini memperlihatkan bahwa penyelenggara sadar betul daya jual nostalgia. Sebab, bagi banyak penonton, pertandingan bernilai lebih ketika memuat sejarah, bukan sekadar pertemuan dua tim yang belum pernah bersinggungan. Turnamen pun berubah menjadi ruang temu antara masa lalu dan masa kini sepak bola Indonesia.

Dari sisi pembinaan, Yunus Nusi menyoroti manfaat lain dari kompetisi ini. Menurutnya, ajang seperti League Cup sangat berguna bagi pemain-pemain lokal di daerah, terutama yang di klubnya tidak mendapat banyak menit bermain, baik di Super League maupun Championship. Kesempatan tampil di pertandingan kompetitif bisa menjadi ruang berkembang yang jarang mereka dapatkan di kompetisi reguler. Dengan begitu, turnamen ini tidak hanya soal hiburan dan gengsi, tetapi juga soal memberi panggung bagi pemain yang selama ini tersembunyi di bangku cadangan. Efek jangka panjangnya bisa terasa pada kualitas pemain nasional di masa depan.

Dampak dan Gambaran ke Depan

Bagi para penggemar, laga ini adalah kesempatan menyaksikan duel yang dulu rutin tersaji. Bagi PSMS, ini panggung untuk menunjukkan bahwa mereka masih punya tempat di percakapan sepak bola nasional, meski kini berlaga di Championship. Bagi Persija, hasil di grup ini menjadi tolok ukur kedalaman skuad ketika harus menghadapi lawan yang datang dengan motivasi berlipat. Di sisi industri, pertemuan bernuansa nostalgia biasanya mendongkrak minat penonton, lalu lintas berita, dan perhatian sponsor. Turnamen sendiri diuntungkan karena punya cerita yang mudah dijual, bukan hanya jadwal pertandingan yang tersusun rapi di atas kertas.

Yang jelas, drawing yang digelar Rabu (7/10/2026) itu sudah menyisakan satu hal untuk dinanti: bagaimana PSMS dan Persija menerjemahkan sejarah panjang mereka ke dalam pertandingan yang sesungguhnya. Grup A kini punya cerita, dan Sumsel United berpeluang menjadi kejutan yang mengganggu narasi besar itu. Format satu leg di babak lanjutan menambah ketegangan, sementara aturan pot memberi PSMS kesempatan bermain di kandang saat menjamu Persija. Semua bumbu sudah tersaji; tinggal menunggu apakah pertemuan ini benar-benar menjadi laga klasik yang layak dikenang, bukan sekadar nostalgia sesaat.

Sumber: Detik Sport

Kalau kamu suka cerita-cerita seru di balik pertandingan seperti ini, jangan cuma baca sekali lalu pergi. Ikuti terus kanal resmi LapakStore88 biar kamu selalu jadi orang pertama yang tahu kabar terbaru seputar sepak bola dan berita penting lainnya. Santai saja, cukup mampir rutin dan kamu tidak akan ketinggalan apa pun.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: PSMS vs Persija, League Cup 2026, PSMS Medan, Persija Jakarta, Grup A League Cup, rivalitas PSMS Persija, sepak bola Indonesia, drawing League Cup

#LapakStore88

Posting Komentar

0 Komentar