LokalStore88 Rabu,7 Oktober 2026.
Enam tahun bukan rentang waktu pendek untuk menyempurnakan satu resep roti. Itulah yang dilalui sejumlah warga binaan Lapas Perempuan Bandung sebelum akhirnya melahirkan Puff Tape Lamoria. Produk ini bukan sekadar camilan baru, melainkan hasil program pembinaan keterampilan tata boga yang dijalankan di dalam lapas. Bagi pembaca, kisah ini menarik karena menunjukkan bagaimana dapur penjara bisa menghasilkan oleh-oleh khas yang bersaing di pasar. Di balik kulit puff yang renyah, ada proses panjang, kegagalan, dan harapan untuk kembali ke masyarakat.
Rasa yang Lahir dari Program Pembinaan
Puff Tape Lamoria adalah roti berlapis kulit tipis dan renyah dengan isian olahan tape, keju, dan susu. Kombinasi itu membuat rasanya creamy dan teksturnya lembut saat masuk ke mulut. Tape dipilih bukan tanpa alasan karena Bandung punya sejarah panjang sebagai kota peuyeum. Dalam bahasa Sunda, peuyeum merujuk pada tape, makanan fermentasi yang dulu menjadi ikon kuliner daerah. Dengan menghadirkan tape dalam bentuk puff, produk ini mencoba menjembatani cita rasa tradisional dan selera modern.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Bandung memang lama dikenal lewat peuyeumnya. Dulu, orang yang berkunjung ke kota ini kerap mencari peuyeum sebagai buah tangan. Namun, seiring waktu, popularitas peuyeum perlahan tergerus oleh pilihan oleh-oleh yang lebih baru. Rika Aprianti, Kalapas Perempuan Bandung, menyebut keinginan membangkitkan kenangan itu sebagai salah satu ide di balik Puff Tape Lamoria. Artinya, produk ini tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga mencoba merawat memori kolektif tentang Bandung.
Enam Tahun Meramu Resep
Rika menegaskan bahwa Puff Tape Lamoria murni kreasi warga binaan. Perjalanan menuju versi terbaiknya tidak singkat dan memakan waktu sekitar enam tahun. Selama itu, resep terus diuji, dikoreksi, dan disempurnakan dari waktu ke waktu. Menurut Rika, butuh ketekunan luar biasa untuk mencapai kualitas rasa yang dianggap paling pas. Proses panjang inilah yang membuat produk ini berbeda dari roti yang dibuat secara instan.

Sosok di balik resep Puff Tape Lamoria adalah seorang warga binaan perempuan berinisial M. Ia sudah menjalani masa pembinaan di Lapas Perempuan Bandung selama enam tahun. Selama itu pula ia memanfaatkan program tata boga yang disediakan lapas. M tidak bekerja sendiri karena teman-teman sesama warga binaan turut membantu meramu resep. Kolaborasi itu menunjukkan bahwa dapur pembinaan bukan ruang individual, melainkan ruang belajar bersama.
Pada awalnya, rasa puff tape buatan mereka masih didominasi tepung. Kondisi itu membuat mereka sadar bahwa resepnya belum menemukan keseimbangan yang tepat. Mereka lalu bereksperimen dengan takaran isian, tekstur kulit, dan cara memanggang. Setiap percobaan memberi pelajaran tentang apa yang perlu diperbaiki. Dari situlah versi yang lebih lumer, creamy, dan renyah perlahan terbentuk.
Perempuan berusia 40 tahun itu menyimpan harapan besar pada produk yang ia rintis. Ia berharap pembuatan puff tape bisa dilanjutkan oleh teman-temannya ketika ia nanti kembali ke masyarakat. Baginya, keterampilan ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu di lapas. Ia memandangnya sebagai amal dan upaya menebus kesalahan masa lalu. Harapan itu memberi dimensi emosional pada setiap puff yang dihasilkan.
Dari Lapas ke Pasar yang Lebih Luas
Rika optimistis Puff Tape Lamoria mampu memikat penikmatnya. Ia menilai kualitas rasanya bisa membuat produk ini diterima sebagai oleh-oleh khas Kota Kembang. Optimisme itu didukung pengalamannya sebagai mantan juru bicara Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ia memahami pentingnya pembinaan yang tidak berhenti pada keterampilan, tetapi juga menyiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat. Karena itu, produk ini dilihat sebagai simbol pembinaan yang membumi.
Dari sisi rasa, Rika menggambarkan puff tape sebagai camilan yang memadukan sensasi renyah dan lumer. Gigitan pertama menghadirkan kulit berlapis yang tipis, lalu isian tape dan keju meleleh di mulut. Rasa creamy dari campuran tape, keju, dan susu membuatnya mudah disukai. Menurutnya, siapa pun yang mencoba bisa langsung merasakan keunikan itu. Ia menyebut produk ini punya daya tarik yang membuat orang ingin mencoba lagi.

Untuk menjangkau pembeli, Puff Tape Lamoria dipasarkan melalui marketplace Shopee. Selain itu, produk ini juga bisa ditemukan lewat media sosial Lamoria yang dikelola pihak lapas. Strategi digital itu memperluas jangkauan tanpa harus menunggu pembeli datang langsung. Ke depan, penjualan juga direncanakan lewat koperasi lapas. Koperasi tersebut dinamai Lamoria Paviliun dan akan menjadi etalase produk warga binaan.
Rika berharap Lamoria Paviliun segera bisa menjual puff tape dan produk Lamoria lain secara langsung di depan lapas. Ia meminta doa dan dukungan agar rencana itu berjalan lancar. Menurutnya, kehadiran paviliun bisa mendekatkan Lapas Perempuan Bandung dengan masyarakat. Hal ini penting karena warga binaan pada akhirnya akan kembali ke tengah masyarakat. Dengan begitu, hubungan antara lapas dan warga sekitar tidak lagi berjarak.
Selain puff tape, Lamoria Paviliun nantinya juga akan menampilkan berbagai produk kreasi warga binaan. Ada ragam jajanan pasar, roti, dan kopi kekinian yang bisa dilihat atau dibeli pengunjung. Produk lain mencakup batik tulis dan cap, kerajinan perca, rajutan, hingga pakaian. Keragaman itu menunjukkan bahwa pembinaan di lapas tidak terbatas pada satu jenis keterampilan. Pengunjung pun bisa cuci mata sekaligus mendukung hasil karya mereka.
Dampak, Tantangan, dan Masa Depan
Kehadiran produk seperti Puff Tape Lamoria punya arti besar bagi warga binaan. Keterampilan tata boga memberi mereka bekal konkret untuk kembali ke masyarakat. Ketika produk mereka dihargai, rasa percaya diri bisa tumbuh kembali. Proses pembinaan tidak lagi terasa sekadar hukuman, tetapi juga ruang untuk memperbaiki diri. Dari dapur lapas, mereka belajar disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.

Bagi masyarakat, Puff Tape Lamoria menambah pilihan oleh-oleh khas Bandung. Produk ini memperkuat narasi kuliner lokal yang terus beradaptasi dengan selera zaman. Bagi industri kecil, kisah ini menjadi contoh bagaimana keterampilan bisa menjadi usaha. Namun, keberlanjutan tetap menjadi tantangan karena produk makanan membutuhkan konsistensi rasa dan pasokan. Dukungan pembeli menjadi kunci agar produk warga binaan tidak sekadar menjadi proyek sesaat.
Tantangan lain adalah menjaga kualitas ketika produksi berjalan lebih besar. Resep yang sudah ditemukan harus bisa diwariskan dan dijalankan oleh warga binaan berikutnya. Branding Lamoria juga perlu terus dibangun agar dikenal sebagai produk berkualitas, bukan hanya karena latar belakang pembuatnya. Distribusi lewat marketplace dan paviliun harus dijaga agar pembeli mudah mengakses. Semua itu menuntut manajemen yang rapi dari pihak lapas dan kolaboratornya.
Kisah ini juga berpotensi mengubah cara publik memandang lapas. Selama ini, penjara sering dipandang hanya sebagai tempat menjalani hukuman. Padahal, di dalamnya ada program pembinaan yang bisa menghasilkan karya bernilai. Ketika produk seperti puff tape masuk pasar, batas antara lapas dan masyarakat menjadi lebih cair. Stigma terhadap warga binaan pun pelan-pelan bisa terkikis. Produk makanan yang enak bisa menjadi pintu masuk untuk memahami kisah di baliknya.
Ke depan, Puff Tape Lamoria masih punya ruang untuk tumbuh sebagai oleh-oleh khas Bandung. Kehadiran Lamoria Paviliun di depan lapas akan menjadi langkah penting untuk mendekatkan produk dengan pembeli. Jika resepnya terus dilanjutkan, keterampilan yang dibangun selama enam tahun tidak hilang begitu saja. Warga binaan yang keluar nanti juga membawa bekal yang bisa dipakai di masyarakat. Pada akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang roti, tetapi tentang kesempatan kedua yang dikemas dalam rasa.
Sumber: Detik News
Terus ikuti perkembangan berita terkini dan kisah-kisah inspiratif lain dari LapakStore88. Jangan sampai ketinggalan update berikutnya soal produk lokal, UMKM, dan perjalanan warga binaan. Gabung dan pantau kanal resmi kami supaya setiap kabar baru langsung sampai ke kamu.
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: puff tape lamoria, oleh-oleh khas bandung, lapas perempuan bandung, warga binaan, roti tape keju, lamoria paviliun, puff tape, kuliner bandung
#LapakStore88

0 Komentar