LokalStore88 Selasa,6 Oktober 2026.
Ada ritual kecil yang setiap malam dilakukan Chika Jessica tanpa terkecuali: mendekati ibunya yang tengah terlelap, menunduk, lalu memastikan dada itu masih naik-turun bernapas. Bukan kebiasaan yang manis, melainkan lahir dari kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang. Presenter berusia 38 tahun ini tengah mendampingi sang ibunda yang berjuang melawan komplikasi penyakit ginjal yang telah menjalar ke jantung. Di balik citra ceria yang selalu ia tampilkan di layar kaca, tersimpan beban yang jarang diketahui penonton. Dan ceritanya, sebagaimana ia curahkan baru-baru ini, menyentuh luka lama yang belum sembuh: serangan stroke yang melanda ibunya secara tiba-tiba.
Wajah Chika Jessica memang sudah akrab bagi penonton televisi tanah air. Ia dikenal sebagai presenter yang enerjik dan pandai mencairkan suasana, sosok yang hampir selalu tampil penuh senyum. Namun ketika ditemui di Studio Trans7 di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026), sisi lain dirinya terbuka lebar. Di hadapan media, ia berbagi cerita tentang perjuangan ibundanya yang tengah sakit. Cerita itu bukan sekadar kabar kesehatan keluarga, melainkan potret anak yang bergulat antara pekerjaan, kekhawatiran, dan kenangan traumatis yang belum usai. Dari tuturnya, terlihat jelas betapa peran seorang anak bisa berubah drastis saat orang tua mulai rapuh.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Kondisi ibunda Chika Jessica diketahui menurun drastis dalam waktu yang relatif singkat. Segalanya bermula dari gangguan pada fungsi ginjal yang menuntut penanganan cuci darah. Sayangnya, penyakit itu tidak berhenti di ginjal saja. Komplikasi menjalar hingga menyerang organ jantung, yang kini mengalami pembengkakan. Untuk tetap bertahan, sang ibunda kini bergantung pada bantuan tabung oksigen yang terpasang terus-menerus. Keadaan itu membuat Chika tidak bisa berlelah-lelah memantau kondisi ibundanya setiap hari.
Secara umum, hubungan antara ginjal dan jantung memang sulit dipisahkan. Ginjal yang gagal bekerja optimal dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh, dan beban itu pada akhirnya terdorong ke jantung. Dalam kasus ibunda Chika, gangguan ginjal tersebut diketahui menjalar hingga menyebabkan pembengkakan pada organ jantungnya. Situasi seperti ini membuat penanganan menjadi lebih rumit karena dua organ vital harus ditangani sekaligus. Belum lagi riwayat serangan stroke yang mengiringi, menambah panjang daftar komplikasi yang harus dihadapi keluarga.
Narasi sederhana yang dilontarkan Chika justru menggambarkan betapa kompleksnya keadaan ibunya. "Mama tuh ginjal, jadi harus cuci darah, tapi sekarang udah ke jantung, jantungnya membengkak," ujarnya saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Tidak ada dramatisasi dalam kalimat itu, hanya fakta pahit yang harus ia terima setiap hari. Ginjal yang seharusnya menyaring racun dari darah kini tak lagi mampu bekerja sendiri, sehingga ibunya wajib menjalani cuci darah secara rutin. Dan ketika beban itu menjalar ke jantung, tingkat kekhawatiran pun naik ke level yang benar-benar berbeda.
Ketergantungan pada tabung oksigen menjadi gambaran nyata seberapa rapuh kondisi sang ibunda saat ini. Alat itu menemani setiap hari, memastikan pasokan oksigen mengalir tanpa jeda sejenak pun. Bagi Chika Jessica, pemandangan tersebut tentu tidak mudah dicerna, apalagi ia tetap harus menjalankan kesibukannya di depan kamera. Ada dua dunia yang harus ia jalani bersamaan: dunia hiburan yang menuntut energi dan senyum, serta dunia perawatan yang menuntut kesabaran dan kekuatan mental. Tidak banyak orang yang memahami beratnya berdiri di antara keduanya.
Ritual Setiap Malam yang Tak Pernah Terlewat
Di malam hari, ketika seluruh aktivitas selesai dan rumah kembali sunyi, kecemasan Chika Jessica justru mencapai puncaknya. Ia mengaku kerap diselimuti rasa cemas yang sulit dijelaskan, terutama saat ibundanya sedang terlelap tidur. Waktu tidur yang seharusnya menjadi ajang istirahat berubah menjadi momen penuh kewaspadaan. Setiap perubahan kecil pada kondisi ibunya langsung menjadi hal yang ia perhatikan dengan sangat serius. Rasanya seperti berjaga dalam diam, siap kapan pun dibutuhkan.
Kebiasaan mengecek napas ibunya pun menjelma menjadi ritual yang tak pernah ia lewatkan. "Belakangan aku tuh selalu kalau Mama tidur, aku selalu cek masih napas atau gak," tuturnya, seperti dikutip dari Detik Hot. Ia bahkan menegaskan bahwa kewaspadaan semacam itu memang perlu, sebab ia takut terlambat menyadari jika tiba-tiba terjadi penurunan kondisi pada ibunya. "Biar Mama tidur, aku lihatin," imbuhnya. Kalimat-kalimat sederhana itu menyimpan bobot emosi yang tak bisa diukur dengan angka.
Ritual tersebut mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, namun bagi Chika hal itu adalah cara paling menenangkan untuk merasa tetap mengendalikan situasi. Saat merawat anggota keluarga yang sakit, ruang kendali yang dimiliki sering kali sangat sempit, dan itu membuat siapa pun mudah merasa tak berdaya. Dengan memastikan napas ibunya masih mengalir, setidaknya ia mendapatkan ketenangan untuk melewati satu malam lagi. Kecemasan semacam ini sebenarnya umum dialami keluarga yang mendampingi pasien berondisi kritis. Bisa dikatakan, ritual malam itu adalah bentuk kasih sayang sekaligus pelampiasan rasa takut yang tak punya saluran lain.
Luka Lama yang Kembali Menyergap
Di balik semua kekhawatiran itu, tersimpan trauma yang jauh lebih dalam: momen ketika ibunya terserang stroke secara tiba-tiba. Pengalaman itu membekas begitu rupa hingga Chika tidak pernah bisa sepenuhnya tenang. Rasa panik yang ia rasakan saat kejadian tidak hilang begitu saja, melainkan tertanam dan muncul di momen-momen yang tak terduga. Salah satunya ketika ia harus berada di dalam mobil bersama sang ibunda. Kenangan pahit itu kembali hadir, seolah memutar ulang peristiwa yang pernah melumpuhkan dirinya waktu itu.

"Aku ada trauma kalau misal aku di mobil sama Mama. Aku tuh ada rasa panik karena pernah waktu stroke tuh gitu di mobil. Ada trauma gitu. Itu saking traumanya, aku tuh takut," cerita Chika Jessica membuka-buka masa lalu. Rangkaian pengakuan itu menggambarkan betapa mendalamnya bekas peristiwa tersebut di benaknya. Ruang yang seharusnya biasa saja, sekadar kendaraan untuk bepergian, kini berubah menjadi pemicu kenangan yang menyeruak. Setiap kali duduk di samping ibunya di dalam mobil, rasa takut itu datang lagi tanpa bisa ia tahan.
Reaksi seperti ini wajar dialami siapa pun yang pernah menyaksikan orang terkasih terserang penyakit mendadak. Stroke dikenal sebagai kondisi yang datang tanpa peringatan dan mampu mengubah segalanya dalam hitungan menit. Bagi yang menyaksikannya secara langsung, pikiran cenderung merekam detail kejadian lalu mengaitkannya dengan tempat atau situasi tertentu. Itulah mengapa Chika merasakan panik yang membekas setiap kali berada di lokasi yang sama dengan saat kejadian. Trauma semacam ini tidak bisa dihapus sekadar dengan kemauan keras, melainkan butuh waktu, ruang aman, dan dukungan dari sekitar.
Menariknya, rasa takut itu tidak membuat Chika Jessica mundur dan menjauh. Justru sebaliknya, ia tumbuh menjadi anak yang jauh lebih waspada terhadap setiap gerak-gerik ibundanya. Perubahan sekecil apa pun pada kondisi sang ibu langsung mendapat perhatiannya. Kewaspadaan berlebih semacam ini tentu melelahkan, namun baginya itulah bentuk tanggung jawab yang tak bisa ditawar. Di balik trauma yang masih membekas, ada kekuatan untuk terus hadir bagi orang yang paling ia sayangi.
Rangkaian Pengobatan yang Harus Dijalani
Menyoal penanganan medis, Chika Jessica menjelaskan bahwa ibundanya masih rutin menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan. Jadwalnya teratur, yaitu setiap hari Rabu dan Sabtu. Prosedur ini kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka, sebab ginjal sang ibunda sudah tidak mampu bekerja normal. Di samping cuci darah, sang ibunda juga wajib mengonsumsi obat-obatan jantung secara teratur sesuai anjuran dokter. Kombinasi kedua penanganan itulah yang menjadi kunci menjaga kondisinya tetap stabil.
Kabar yang sedikit menggembirakan datang dari sesi fisioterapi yang sempat ia jalani. Pasca serangan stroke, sang ibunda menjalani fisioterapi sebagai bagian dari proses pemulihan. Kabar baiknya, tahapan fisioterapi tersebut kini telah resmi selesai. "Fisioterapinya udah selesai karena pas stroknya udah mulai membaik," ungkap Chika Jessica menutup penjelasannya. Artinya, meski kondisi ibunya masih harus diawasi ketat, ada progres pemulihan pasca-stroke yang bisa disyukuri keluarga.
Rangkaian pengobatan seperti ini memang bukan perjalanan singkat yang bisa selesai dalam sekejap. Cuci darah yang berlangsung dua kali sepekan menuntut kesiapan fisik, mental, dan tentu saja waktu keluarga yang mendampingi. Tak bisa dipungkiri, perawatan jangka panjang juga membebani secara emosional bagi seluruh anggota keluarga yang terlibat. Namun kedisiplinan menjalani pengobatan, sebagaimana yang ditunjukkan ibunda Chika, menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hidup pasien. Konsistensi inilah yang membuat kondisi medis yang rumit tetap bisa dikendalikan dari hari ke hari.
Cermin bagi Banyak Keluarga
Cerita Chika Jessica menyentuh karena sangat mudah dipahami oleh banyak keluarga Indonesia. Dalam budaya kita, merawat orang tua yang sakit memang lazimnya menjadi tanggung jawab anak, tanpa memandang seberapa padat kesibukan masing-masing. Pengakuannya menjadi pengingat bahwa di balik layar kaca yang gemerlap, para artis pun menghadapi ujian kehidupan yang sama beratnya dengan orang-orang biasa. Tak ada bedanya antara yang tampil di televisi dan yang menontonnya, sama-sama bisa diuji dengan sakitnya orang tua. Dari sudut ini, curahannya bagai cermin bagi siapa pun yang tengah menjalani peran serupa di rumahnya.
Selain itu, keberanian Chika berbicara soal trauma dan kecemasannya turut membuka ruang percakapan yang selama ini sering diabaikan. Kesehatan mental keluarga yang merawat pasien jarang dibahas di ruang publik, padahal bebannya tidak kalah besar. Beban psikologis yang mereka tanggung bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, jauh setelah kondisi fisik pasien mulai membaik. Dengan berbicara terbuka, setidaknya keluarga lain yang mengalami hal serupa tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kewaspadaan, kecemasan, bahkan trauma, adalah bagian dari perjalanan merawat yang tak boleh diremehkan.
Saat ini, perjuangan ibunda Chika Jessica masih terus berlanjut. Cuci darah tetap terjadwal setiap Rabu dan Sabtu, obat jantung rutin dikonsumsi, dan tabung oksigen tetap setia menemani setiap napasnya. Meski demikian, pemulihan pasca-stroke yang mulai membaik menjadi harapan kecil yang tetap menyala di tengah situasi yang berat. Bagi Chika, tak ada pilihan lain selain terus hadir, memeriksa napas ibunya setiap malam, menjaganya di setiap perjalanan, dan merawatnya dengan sepenuh hati. Semoga perjalanan panjang ini berakhir dengan kabar yang jauh lebih baik, dan trauma itu perlahan berganti menjadi ketenangan.
Sumber: Detik Hot
Cerita seperti ini selalu ada kelanjutannya, dan kamu nggak mau ketinggalan update terbaru lainnya, kan? Gabung aja ke kanal resmi LapakStore88 biar setiap berita hangat langsung nyampe duluan ke layar kamu. Sampai jumpa di update berikutnya, dan jangan lupa jaga kesehatan orang-orang tersayang, ya!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Chika Jessica, ibu Chika Jessica, penyakit ginjal, cuci darah, pembengkakan jantung, stroke, tabung oksigen, berita selebritis
#LapakStore88

0 Komentar