Dari Mesin Cuci ke Tribun Dunia: Perjalanan Nyanyian 'Ole Ole Ole' di Sepak Bola

Dari Mesin Cuci ke Tribun Dunia: Perjalanan Nyanyian 'Ole Ole Ole' di Sepak Bola

LokalStore88 Rabu,7 Oktober 2026.

Bunyi mesin cuci yang berputar di sebuah rumah di Belgia ternyata menjadi awal dari nyanyian yang kini menggetarkan stadion di berbagai penjuru dunia. Grand Jojo, penyanyi lokal yang diminta membuat lagu perayaan, kesulitan mencari ketukan yang pas. Dari dengung alat rumah tangga itu, lahirlah dasar irama 'Anderlecht Champion' pada 1985. Nyanyian 'Ole, ole, ole, ole' yang sering kita dengar di tribun sepak bola bukan sekadar sorakan biasa. Ia membawa jejak panjang dari klub Belgia, Piala Dunia, sampai budaya populer. Bagi pembaca, kisah ini menunjukkan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menjelma menjadi bahasa universal suporter.

Lahir dari Gelar Juara Anderlecht

Pada 1985, RSC Anderlecht merayakan gelar juara Liga Belgia untuk ke-18 kalinya. Untuk memeriahkan momen tersebut, pimpinan label musik Belgia Hans Kusters menginisiasi pembuatan lagu. Ia menggandeng produser Roland Verlooven dan Grand Jojo untuk menulisnya. Lagu itu diberi judul 'Anderlecht Champion'. Awalnya, bagian refrain dinyanyikan dengan kata 'Allez' dalam bahasa Prancis. Lagu perayaan ini kemudian menjadi fondasi bagi nyanyian yang jauh lebih besar.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Direkam Bareng Bintang dan Pelatih

Grand Jojo tidak menulis lagu itu sendirian. Ia merekamnya bersama sejumlah pemain bintang Anderlecht, seperti Enzo Scifo, Morten Olsen, dan Franky Vercauteren. Pelatih Paul Van Himst juga terlibat dalam proses rekaman. Menurut catatan, lagu ditulis di rumah Grand Jojo di Groot-Bijgaarden. Versi rekamannya dibuat dalam bahasa Prancis dan bahasa Belanda. Kombinasi itu membuat lagu cepat diterima suporter.

Dari Mesin Cuci ke Tribun Dunia: Perjalanan Nyanyian 'Ole Ole Ole' di Sepak Bola (2)
Foto: Liputan6 Showbiz

Grand Jojo, Tokoh di Baliknya

Grand Jojo, yang dalam bahasa Belanda disebut Lange Jojo, lahir pada 1936. Namanya mulai dikenal pada 1970-an lewat lagu 'Chef, un p'tit verre, on a soif'. Ia juga dikenal sebagai pendukung setia Anderlecht yang sering hadir di stadion. Pada 2015, ia dinobatkan sebagai warga kehormatan Kota Brussel. Ia meninggal dunia pada akhir 2021 dalam usia 85 tahun. Semasa hidup, ia kerap mengatakan bahwa dirinya mungkin tidak abadi, tetapi nyanyian 'Olé, Olé' akan terus terdengar.

Dari 'Allez' ke 'Olé' di Meksiko

Perubahan penting terjadi setahun setelah lagu itu lahir. Saat tim nasional Belgia berangkat ke Piala Dunia 1986 di Meksiko, Grand Jojo membuat versi baru. Kata 'Allez' diganti menjadi 'Olé' agar cocok dengan suasana negara tuan rumah yang berbahasa Spanyol. Versi baru itu berjudul 'E Viva Mexico'. Versi bahasa Belanda dinyanyikan Walter Capiau bersama De Oranje Duivels, sedangkan Grand Jojo membawakan versi bahasa Prancis. Pada turnamen itu, Belgia berhasil mencapai semifinal.

Menyebar ke Seluruh Dunia

Sejak Piala Dunia 1986, nyanyian 'Olé, Olé, Olé' mulai diadopsi suporter dari negara lain. Lagu itu tidak hanya hidup di stadion. Ia juga diputar dalam versi musik dansa di kelab malam. Di Jepang, lagu ini sempat menduduki tangga lagu setelah dipakai sebagai pembuka sebuah acara sepak bola. Penyebaran itu menunjukkan bahwa melodi sederhana bisa melampaui batas bahasa dan budaya. Dari tribun Belgia, nyanyian ini berubah menjadi fenomena global.

Makna 'Olé' yang Lebih Tua dari Sepak Bola

Kata 'olé' sendiri jauh lebih tua daripada lagu Anderlecht. Dalam bahasa Spanyol, kata itu dipakai untuk menyemangati atau memuji sebuah penampilan. Teriakan ini sangat lekat dengan penonton adu banteng dan pertunjukan flamenco. Dalam adu banteng, penonton biasanya berseru 'olé' setiap kali matador menyelesaikan rangkaian gerakan dengan baik. Ketika suporter sepak bola meneriakannya, maknanya adalah pujian atas permainan indah. Namun, dalam konteks tertentu, kata ini juga bisa dipakai untuk mengejek lawan yang tampak tidak berdaya.

Dari Mesin Cuci ke Tribun Dunia: Perjalanan Nyanyian 'Ole Ole Ole' di Sepak Bola (3)
Foto: Liputan6 Showbiz

Asal-Usul yang Masih Diperdebatkan

Para ahli belum sepakat tentang asal-usul kata 'olé'. Salah satu dugaan populer menyebut kata itu berasal dari kata Arab 'Allah'. Namun, dugaan ini dibantah. Ahli bahasa Arab asal Spanyol, Federico Corriente, menyebut asal-usul tersebut sebagai 'arabisme palsu'. Kamus resmi bahasa Spanyol bahkan telah menghapus keterangan itu sejak 2001. Perdebatan ini menunjukkan bahwa satu kata kecil bisa menyimpan sejarah panjang. Hingga kini, belum ada kesepakatan tunggal soal akar katanya.

Jejak Akademik dan Bahasa

Persoalan asal kata 'olé' juga dibahas dalam jurnal ilmiah. Alan S. Kaye menulis artikel berjudul 'Two Alleged Arabic Etymologies' pada 2005 di Journal of Near Eastern Studies. Artikel itu menelaah dugaan asal kata Arab tersebut. Sementara itu, ahli bahasa Joan Coromines mengaitkan 'olé' dengan kata sapaan 'hola' dan 'hala' dalam bahasa Spanyol. Perbedaan pendapat ini wajar dalam studi bahasa. Yang jelas, kata itu sudah lama hidup dalam percakapan sehari-hari.

Sudah Ada Sebelum Lagu Belgia

Teriakan 'olé' ternyata sudah ada jauh sebelum lagu Belgia itu lahir. Wikipedia menyebut teriakan tersebut diyakini pertama kali dipakai di dunia sepak bola Brasil pada 1958 untuk memuji aksi Garrincha. Selain itu, bentuk nyanyian yang mirip pernah terdengar di Spanyol pada 1982. Saat Real Sociedad menjuarai Liga Spanyol 1982, suporter di San Sebastian menyanyikan 'Campeones, hobe, hobe, hobe'. Kata 'hobe' berarti 'yang terbaik' dalam bahasa Basque. Di bagian lain Spanyol, nyanyian serupa dilantunkan dengan kata 'Oé, Oé, Oé'.

Dari Mesin Cuci ke Tribun Dunia: Perjalanan Nyanyian 'Ole Ole Ole' di Sepak Bola (4)
Foto: Liputan6 Showbiz

Mengapa Mudah Menyebar

Salah satu alasan nyanyian ini cepat menular adalah strukturnya yang sederhana. Hanya tiga suku kata yang diulang, sehingga mudah diingat dan dinyanyikan bersama-sama. Melodinya juga lentur, bisa disesuaikan dengan irama tepuk tangan, drum, atau alat musik stadion. Suporter dari berbagai negara dapat memakainya tanpa perlu memahami bahasa aslinya. Inilah yang membuat 'olé' terasa seperti bahasa universal tribun. Ia bukan hanya milik Belgia, tetapi telah menjadi milik siapa pun yang menonton sepak bola.

Dampak bagi Budaya Suporter

Bagi budaya suporter, nyanyian 'olé' berfungsi sebagai perekat sosial. Ia menyatukan orang-orang yang mungkin tidak saling kenal di dalam stadion. Lagu ini juga memperlihatkan bagaimana sepak bola menyerap elemen budaya lain, termasuk musik dan tradisi lokal. Klub-klub dan penyanyi bisa menciptakan lagu perayaan, tetapi suporterlah yang menentukan apakah lagu itu bertahan. Dalam kasus ini, suporter di berbagai belahan dunia memilih untuk merawatnya. Dampaknya, 'olé' menjadi salah satu bunyi paling dikenal dalam olahraga global.

Kisah 'Ole, ole, ole, ole' menunjukkan bahwa warisan budaya bisa lahir dari hal tak terduga. Dari bunyi mesin cuci di rumah Grand Jojo, lagu itu berkembang menjadi nyanyian stadion di banyak negara. Grand Jojo telah berpulang, tetapi ramalannya tentang nyanyian yang terus terdengar seolah terbukti. Setiap kali tribun bersorak 'olé', ada jejak panjang dari Belgia, Meksiko, Brasil, dan Spanyol yang ikut bergema. Ke depan, nyanyian ini kemungkinan akan terus beradaptasi dengan generasi suporter baru.

Sumber: Liputan6 Showbiz

Kalau kamu suka cerita-cerita di balik sorak sorai di stadion, jangan lewatkan update terbaru dari LapakStore88. Kami rutin menyajikan ulasan ringan dan mendalam soal sepak bola, budaya suporter, dan peristiwa menarik lainnya. Ikuti terus kanal resmi LapakStore88 supaya kamu tidak ketinggalan cerita berikutnya.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: sejarah ole ole, lagu suporter sepak bola, anderlecht champion, grand jojo, piala dunia 1986, asal kata ole, nyanyian stadion, sepak bola belgia

#LapakStore88

Posting Komentar

0 Komentar