LokalStore88 Rabu,7 Oktober 2026.
Bayangkan sesendok bubur putih lembut meleleh di mulut, berpadu manis legit kuah gula merah yang mengalir perlahan. Itulah sensasi bubur sumsum, hidangan yang mungkin sering kita jumpai di meja acara selamatan, tetapi kini mulai ramai kembali sebagai pilihan sarapan. Di tengah menu pagi yang serba cepat dan instan, bubur sumsum menawarkan sesuatu yang berbeda: kehangatan yang menenangkan dan rasa rumahan yang sulit ditiru. Tak heran bila banyak keluarga kembali melirik resep tradisional ini untuk mengawali hari. Popularitasnya bukan sekadar nostalgia, melainkan bukti bahwa kuliner warisan tetap punya tempat di dapur modern.
Bubur sumsum sebenarnya bukan hidangan baru. Selama puluhan tahun, ia akrab di acara-acara syukuran, pengajian, atau perayaan tradisional di berbagai daerah. Kehadirannya sering dianggap pelengkap yang menenangkan, bukan sekadar makanan penutup. Namun belakangan, posisinya bergeser: dari sajian acara khusus menjadi menu sarapan harian yang praktis. Pergeseran ini terjadi karena bahan-bahannya mudah ditemukan dan cara membuatnya tidak rumit. Ditambah lagi, rasa gurih-manisnya cocok untuk hampir semua anggota keluarga.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Jejak Sejarah di Balik Nama Sumsum
Menelusuri asal-usulnya, bubur sumsum dipercaya lahir di kalangan masyarakat pedesaan Jawa pada era kolonial. Saat itu, stok beras sedang menipis, sehingga masyarakat mencari cara agar bahan yang tersisa tetap bisa dinikmati bersama. Dari keterbatasan itu, lahirlah olahan tepung beras yang kemudian dikenal sebagai bubur sumsum. Menariknya, nama 'sumsum' sama sekali tidak merujuk pada kaldu atau tulang sapi. Istilah itu justru terinspirasi dari penampilan bubur yang putih bersih dan bertekstur selembut sumsum tulang. Sebuah contoh bagaimana kuliner lahir dari kreativitas dan adaptasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3375129/original/063694800_1613100168-Jenang_Sumsum__1_.jpg)
Kunci Tekstur Lembut dan Proses Memasak
Dua faktor penentu sukses bubur sumsum adalah santan yang masih segar dan tepung beras bermutu. Jika keduanya bagus, hasilnya cenderung lebih mudah diatur. Siapkan seluruh komponen sebelum mulai memasak agar prosesnya tidak terputus. Mengolah tepung beras bersama santan membutuhkan kesabaran ekstra, terutama saat diaduk di atas perapian. Api yang terlalu besar atau adukan yang tidak rata bisa membuat adonan menggumpal. Karena itu, ikuti tahapan secara berurutan demi mendapatkan tekstur licin sempurna.
Banyak pemula mengeluh buburnya terasa mentah di lidah atau justru terlalu kaku setelah dingin. Dua masalah ini biasanya muncul karena takaran dan teknik yang kurang tepat. Para koki tradisional punya rahasia dapur tersendiri untuk mengatasinya, mulai dari cara melarutkan tepung hingga mengatur suhu santan. Intinya, jangan terburu-buru ketika mencampur bahan. Pastikan larutan tepung benar-benar halus sebelum dimasukkan ke santan hangat. Dengan begitu, bubur akan matang merata dan tidak berbau tepung.
Selain tekstur, aroma dan rasa gurih juga perlu dijaga. Santan segar memberikan aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh bahan instan. Tepung beras yang berkualitas akan menghasilkan bubur yang lembut, bukan lengket atau berat. Takaran yang pas antara tepung, santan, dan garam membuat cita rasa seimbang. Jangan lupa, kuah gula merah atau kinca adalah pasangan yang menentukan kenikmatan akhir. Kombinasi inilah yang membuat bubur sumsum terasa memanjakan lidah.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Salah satu pertanyaan paling sering muncul adalah mengapa bubur sumsum buatan sendiri cenderung menggumpal. Penyebab utamanya adalah larutan tepung beras yang langsung dituang saat santan sudah terlalu mendidih. Pengadukan yang tidak merata di tahap awal juga memperparah kondisi ini. Untuk mencegahnya, tuang larutan secara perlahan sambil terus diaduk. Jika gumpalan sudah terbentuk, bubur sulit dikembalikan ke tekstur semula. Karena itu, pencegahan jauh lebih penting daripada perbaikan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262176/original/030475900_1781774296-Screenshot_2026-06-18_161242.jpg)
Pertanyaan lain menyangkut daya tahan sajian ini. Sebaiknya habiskan dalam 12 jam bila disimpan di suhu ruang. Kandungan santan membuatnya mudah basi, terutama di cuaca panas. Di kulkas, umur simpannya hanya sekitar satu hari. Meski begitu, kualitas rasanya biasanya menurun setelah disimpan lama. Menghangatkan kembali bisa membantu, tetapi teksturnya tidak akan persis sama seperti saat baru matang.
Adaptasi dan Cara Menyajikan
Pengganti santan bisa berupa krimer nabati, fiber creme, atau susu evaporasi. Namun, rasa gurihnya tidak akan identik dengan versi asli. Perbedaan ini wajar karena santan punya karakter lemak dan aroma tersendiri. Jika tidak ada masalah dengan santan, tetap gunakan santan segar untuk hasil terbaik. Alternatif ini cocok untuk mereka yang punya kebutuhan diet khusus. Jadi, tidak ada alasan untuk melewatkan bubur sumsum hanya karena pantangan tertentu.
Penyebab kinca pahit sering kali adalah gula aren yang dipanaskan dengan api terlalu besar. Karamel pun gosong dan meninggalkan rasa terbakar. Gula aren yang mutunya kurang bagus juga bisa memberi efek serupa. Untuk menghindarinya, masak gula dengan api sedang dan aduk perlahan. Jika ingin aroma lebih kuat, tambahkan daun pandan, dan pastikan kuah matang berwarna cokelat bening dengan rasa manis bulat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367523/original/054325400_1791352752-8114bb8c-984e-405f-9511-1bf3804f6043.jpg)
Sajian dingin juga jadi favorit. Setelah didiamkan sebentar di lemari es, bubur sumsum bisa dinikmati dengan kuah kinca yang juga dingin atau tambahan es batu. Versi dingin ini cocok untuk cuaca panas atau sebagai hidangan penutup, sementara versi hangat lebih pas untuk sarapan pagi. Fleksibilitas penyajian inilah yang membuat bubur sumsum tetap relevan. Ia bisa menyesuaikan diri dengan selera dan situasi.
Dari sisi praktis, bubur sumsum menawarkan banyak keunggulan. Bahan-bahannya terjangkau dan mudah didapat di pasar maupun toko. Proses memasaknya pun tidak memakan waktu lama, kurang dari satu jam jika dikerjakan dengan efisien. Untuk keluarga, hidangan ini bisa menjadi alternatif sarapan yang mengenyangkan, sementara anak-anak biasanya menyukai rasanya yang manis dan lembut. Orang dewasa menghargai kesederhanaannya yang menenangkan. Ditambah lagi, bubur sumsum bisa dimodifikasi dengan berbagai tambahan bahan sesuai selera.
Pada akhirnya, bubur sumsum adalah bukti bahwa kuliner tradisional tidak pernah benar-benar kehilangan pesonanya. Ia bertahan dari generasi ke generasi, beradaptasi dari sajian selamatan menjadi menu sarapan harian. Dengan memahami sejarah, teknik, dan tips penyajiannya, siapa pun bisa menghadirkan hidangan ini di rumah. Tidak perlu peralatan canggih atau bahan mahal. Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan bahan-bahan berkualitas. Jadi, sudah siap mencoba bubur sumsum lembut gurih di dapur sendiri?
Sumber: Liputan6 Lifestyle
Terus dapatkan inspirasi kuliner dan gaya hidup seru lainnya dengan mengikuti kanal resmi LapakStore88. Jangan sampai ketinggalan update terbaru yang bisa bikin harimu lebih berwarna. Yuk, tetap pantengin terus biar selalu jadi yang pertama tahu!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: bubur sumsum, resep bubur sumsum, sarapan tradisional, kuah kinca, tips bubur sumsum, kue tradisional, makanan nusantara, resep sarapan
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3375129/original/063694800_1613100168-Jenang_Sumsum__1_.jpg)
0 Komentar