Aramco: Krisis Timur Tengah Telan 30 Persen Cadangan Minyak Global

Aramco: Krisis Timur Tengah Telan 30 Persen Cadangan Minyak Global

LokalStore88 Rabu,7 Oktober 2026.

Angka 30 persen itu bukan sembarang statistik. Itulah porsi cadangan minyak dunia yang hilang sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran meletus pada Februari. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, Amin Nasser, dan menjadi salah satu peringatan paling keras yang pernah dilontarkan industri energi dalam beberapa tahun terakhir. Kalau angka itu benar, artinya dunia kehilangan sekitar tiga miliar barel pasokan minyak kotor dari total cadangan global yang sebelumnya berada di kisaran hampir 10 miliar barel.

Bagi pembaca yang mungkin bertanya-tanya kenapa ini penting, jawabannya sederhana: minyak masih menjadi tulang punggung ekonomi dunia. Harga bahan bakar, biaya angkutan, sampai harga pangan di pasar semuanya terhubung ke rantai pasokan energi. Ketika cadangan menipis dan jalur distribusi terganggu, efeknya tidak berhenti di ruang rapat para eksekutif energi — ia merambat ke kantong setiap rumah tangga. Itulah kenapa peringatan Nasser bukan sekadar pernyataan bisnis biasa.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Selat Hormuz dan Krisis yang Tak Kunjung Usai

Pemicu utama dari seluruh kekacauan ini adalah Selat Hormuz. Jalur sempit namun strategis itu masih ditutup tanpa batas waktu, dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Selat ini selama ini menjadi urat nadi lalu lintas energi dunia, tempat sebagian besar minyak dari kawasan Teluk mengalir ke pasar internasional. Begitu jalur ini tersumbat, tidak ada rute alternatif yang bisa sepenuhnya menutupi kehilangan volume sebesar itu.

Nasser menyampaikan peringatannya dalam forum Energy Intelligence di London. Di hadapan para pelaku industri, ia menegaskan bahwa pelepasan pasokan dari cadangan darurat hanya akan memberi bantuan sementara. Menurutnya, langkah itu tidak akan menyelesaikan masalah pasokan jangka panjang. Selama Selat Hormuz belum dibuka sepenuhnya dan kepercayaan pasar belum pulih, tekanan di kedua sisi rantai pasokan minyak akan terus meningkat.

Aramco: Krisis Timur Tengah Telan 30 Persen Cadangan Minyak Global (2)
Foto: Liputan6 Bisnis

Yang membuat situasi semakin rumit, bantalan ketahanan pasokan minyak dunia kini berada di titik yang sangat tipis. Artinya, tidak ada lagi ruang cadangan yang cukup untuk menyerap guncangan berikutnya. Dalam kondisi normal, cadangan semacam ini berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi gangguan pasokan mendadak. Namun sekarang, penyangga itu hampir habis, sehingga setiap gejolak baru bisa langsung terasa di harga.

Nasser juga menyoroti waktu pemulihan yang tidak sebentar. Setelah selat tersebut dibuka kembali sepenuhnya, ia memperkirakan butuh waktu hingga dua tahun untuk mengembalikan cadangan minyak ke tingkat semula. Angka dua tahun ini menunjukkan bahwa krisis ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam hitungan minggu atau bulan. Dibutuhkan kerja sama panjang antara produsen, konsumen, dan jalur distribusi untuk benar-benar pulih.

Langkah Darurat G7 dan Tekanan Politik

Menghadapi situasi ini, negara-negara G7 tidak tinggal diam. Beberapa hari sebelum pernyataan Nasser, mereka mengumumkan rencana melepas hingga 100 juta barel minyak selama empat bulan ke depan. Tujuannya jelas: meredam kenaikan harga bahan bakar yang mulai membebani konsumen dan industri. Namun, pengumuman itu tidak menyebutkan secara rinci berapa volume minyak mentah, solar, dan produk lain yang akan dilepas, maupun negara mana saja yang akan berpartisipasi.

Tekanan politik juga datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan melarang total ekspor solar, sebuah langkah yang jelas memberi tekanan bagi negara-negara Eropa untuk menguras cadangan minyak mereka. Ancaman ini menambah lapisan kerumitan, karena solar merupakan bahan bakar yang menjadi tulang punggung sektor angkutan truk, pertanian, dan industri. Lonjakan harga solar pun berubah menjadi isu politik dan ekonomi global.

Di sisi lain, pasar minyak sempat menunjukkan pergerakan yang naik turun. Harga minyak Brent sempat ditutup di level US$ 100,58 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di US$ 89,44. Analis dari pialang minyak PVM, John Evans, menilai bahwa harga acuan global kembali bergerak di kisaran US$ 100 per barel karena asumsi bahwa lebih banyak pasokan berhasil mengalir mulai meredam lonjakan harga. Namun, sentimen itu belum sepenuhnya stabil.

Aramco: Krisis Timur Tengah Telan 30 Persen Cadangan Minyak Global (3)
Foto: Liputan6 Bisnis

CEO perusahaan perdagangan komoditas raksasa Vitol menyebutkan bahwa sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari dan 2 juta barel produk olahan per hari telah dikirim keluar dari Timur Tengah menggunakan kapal tanker dalam tujuh hingga sepuluh hari terakhir. Volume ini dibutuhkan untuk meredam tekanan harga. Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, melaporkan bahwa minyak yang dialirkan melalui Pipa Timur-Barat hingga pusat ekspor di Yanbu telah mencapai 5,8 juta barel.

Ketegangan Regional yang Belum Mereda

Sayangnya, upaya peningkatan pasokan itu masih tertahan oleh kemungkinan gangguan lanjutan dari Timur Tengah. Bandara Arab Saudi di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Senin malam, yang menyebabkan tiga orang terluka dan kerusakan ringan. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kerajaan Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, menambah ketidakpastian di kawasan.

Serangan udara itu muncul saat pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan operasi besar untuk merebut kembali wilayah dari Houthi. Sebelumnya, kelompok pemberontak tersebut sempat bergerak maju selama berminggu-minggu, membuat Riyadh meningkatkan serangan udara untuk mendukung operasi darat. Koalisi pimpinan Saudi juga mengklaim telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan Houthi, menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai.

Di tengah situasi itu, Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan menggelar pertemuan pekan depan untuk merinci pelepasan cadangan solar. Pertemuan ini penting karena pasar masih diliputi kebingungan soal berapa barel yang benar-benar akan disediakan Eropa dan AS. Tanpa kejelasan, ketidakpastian harga akan terus membayangi pelaku pasar dan konsumen di seluruh dunia.

Aramco: Krisis Timur Tengah Telan 30 Persen Cadangan Minyak Global (4)
Foto: Liputan6 Bisnis

Proyeksi Global dan Dampak Jangka Panjang

Dampak dari perang di Iran terhadap aliran pasokan minyak Timur Tengah juga tercermin dalam proyeksi Badan Informasi Energi AS (EIA). Lembaga itu memperkirakan produksi minyak dunia akan turun dari rekor 106,3 juta barel per hari pada 2025 menjadi 101,1 juta barel per hari pada 2026. Sementara permintaan minyak dunia diperkirakan ikut turun dari 104,4 juta barel per hari menjadi 102,4 juta barel per hari pada periode yang sama.

Meski demikian, EIA memprediksi pasokan dan permintaan minyak dunia akan kembali naik ke rekor tertinggi pada 2027, dengan produksi mencapai 109,6 juta barel per hari dan konsumsi 104,6 juta barel per hari. Proyeksi ini memberi harapan bahwa krisis tidak akan berlangsung selamanya, meski jalan menuju pemulihan tetap panjang dan penuh ketidakpastian. Pasar di AS juga masih menantikan laporan mingguan tingkat penyimpanan dari American Petroleum Institute untuk melihat arah pergerakan berikutnya.

Bagi masyarakat luas, rangkaian peristiwa ini adalah pengingat bahwa harga energi sangat dipengaruhi oleh stabilitas politik di belahan dunia lain. Ketika jalur pelayaran seperti Selat Hormuz terganggu, efeknya bisa terasa hingga ke harga bahan bakar di stasiun pengisian terdekat. Karena itu, memahami dinamika ini bukan hanya penting bagi pelaku industri, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin mengantisipasi biaya hidup ke depan.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada dua hal: apakah Selat Hormuz bisa dibuka kembali, dan seberapa efektif pelepasan cadangan darurat mampu menahan lonjakan harga. Tanpa penyelesaian yang menyeluruh, peringatan Aramco soal cadangan minyak dunia yang menipis akan terus menghantui pasar. Dunia sedang menunggu, dan setiap keputusan di meja perundingan akan berdampak langsung pada perekonomian global.

Sumber: Liputan6 Bisnis

Nah, itu tadi cerita soal krisis minyak yang bikin harga di mana-mana ikut bergolak. Biar kamu nggak ketinggalan perkembangan terbarunya, pantengin terus kanal LapakStore88 ya — semua update terkini soal energi, bisnis, dan isu global lainnya bakal mampir ke kamu duluan.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: cadangan minyak dunia, Aramco, Selat Hormuz, harga minyak, krisis minyak, Amin Nasser, G7, minyak mentah

#LapakStore88

Posting Komentar

0 Komentar